Senin, 11 November 2013

parang tritis.. :D

 sunset di parang tritis..




mbk heni dan mbk afi...




 foto sendiri..
hu..hu...
:)


ditengah lautan..
(allay)..





dikejar-kejar...
waaaaaaaaaaaaa.........!!!!!!!!!!!!!!

Minggu, 04 Desember 2011

cerpen




REIKARNASI




Rumah itu begitu besar, usia rumah itu lumayan lama dan kelihatannya seram. Setelah ku amati dalam-dalam rumah itu mirip dengan dengan bangunan kastel tua.  Ya… kastel..!! Siapapun yang lewat depan rumah tua itu, ingin segera melewatinya karena takut ada hal-hal aneh yamg mungkin menimpa mereka. Bagiku setiap melewati rumah tua iyu aku merasa tak asing lagi, sangat dekat denganku, bahkan aku merasa nyaman.
Hari ini adalah giliran belajarr kelompok di rumahku. Kelompokku ada 5, Eni, Ria, Doni, Riki, dan Aku. Setelah menunggu 20 menit, datanglah mereka. Akupun mempersilahkan mereka masuk. Lali kit belajar seperti biasa. Seusai belajar tiba-tiba Riki menanyakan perihal rumah tua itu.
“Bell, kamu pernah nggak pergi ke rumah tua yang ada di seberang jalan sana.?” tanya Riki serius.
“Ya nggak pernahlah, kalau lewat sih sering soalnya kalau ke sekolah lewat depan rumah tua itu. Emangnya ada apa.?” Tanyaku penasaran.
“Tadi aku nggak sengaja iseng-iseng aja motret rumah tua itu, kamu tau apa.? Nih lihat,,!!!” kata Riki sambil nyerahim digitalnya.
Aku, Deni, Eni, Ria serempak menonton apa yang ada dalam digital itu, akupun shock, dimana disebuah ayunan taman rumah tua itu ada sesosok bocah peremouan yang memakai pakaian putih hingga menutup seluruh kakinya, selain itu dia merambut panjang dan berwajah pucat. Merinding yang kurasakan saat ini, apalagi teman-teman ku. Menurut Riki waktu dia sedang memotret tak ada seorangpun disekitar rumah itu.
“Eh,,, temen-temen gimana kalau kita menyelidiki isi rumah tua itu. Emang sih kedengarannya aneh, tapi emang nyatanya aneh. Coba bayangin rumah setua itu sampai sekarang tamannya masih indah padahal kayaknya nggak ada yang ngerawat.” Ujarku sambil berpikir-pikir.
“Tapi untuk apa..? mending nggak usah, kamu tau kan kalau aku takut sama hal-hal misterius kayak gitu.” Kata Eni merayu.
“Aku tuh penasaran banget, dari aku kecil sampai kelas 2 SMA ini, aku sering mimpi yang aneh-aneh, aku nggak tau apa arti semua mimpi itu, tapi kayaknya berhubungan sama rumah tua itu.” Kataku.
“Oke… jadi kapan kita kesana…?” tanya Ria semangat.
“Em,,, gimana kalau hari Minggu.?” Usul Doni8.
“Boleh juga, tapi aku kan takut.” Kata Eni melas.
“Ngapai takut, kan ada kita berempat.” Bujuk Ria.
Pada pertemuan belajar kelompok kali ini kita malah asyik membahas penyelidikan rumah tua itu, dan setelah dirasa cukup bahas membahasnya, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Dan bertemu lagi hari Minggu besok.

***
Krek……..
Suara pintu gerbang dibuka. Sedangkan aku sibuk mengamati sekitar rumah ntua ini. Taman yang terlihat tua dengan ayunan yang setia menemani. Anehnya di bagian pintu tak ada satupun sarang laba-laba. Perlahan namun pasti, kamipun masuk, walaupun masih pagi tapi rumah ini tak terdapat sinar sedikitpin. Untunglah kami membawa senter. Sesekali ku lihat foto keluarga di dinding. Aku cermati foto seorang gadis yang mengenakan kebaya putih itu sangatlah mirip denganku. Tapi itu mungkin hanya perasaanku saja, gumamku dalam hati.
Akupun melanjutkan hingga masuk disebuah kamar, kulihat ranjang yang terbuat dari besi dengan ukiran yang sangat dekat denganku. Sebelah kanan terdapat sebuah lemari yang berukiran bunga-bunga dimana tertempel sebuah cermin besar di sebelah kirinya.
Perasaanku mengatakan kalau aku pernah tidur disini. Tiba-tiba tanpa ku sadari, aku tak sengaja ingin membuka laci yang berada di samping ranjang. Aku menemukan sebuah buku diary bertuliskan,

BELLY ANASYTASYA PUTRI                   11 JULI 1928

Namanya mirip denganku, akupun melanjutkan membuka halaman berikutnya. Di halaman pertama, aku menemukan sebuah foto. Akupun semakin shock,,. Dia sangat mirip denganku, hanya saja terdapat tahi lalat di dekat matanya, sedangkan aku tidak.

January,11 1948

Ku tulis sebuah kisah memilukan dalam diary ini. Kisah yang mungkin aneh tuk didengar, dibaca, ataupun diceritakan. Aku adalah gadis yang terlahir kedunia bersama dengan saudara laki-laki yang juga mirip denganku. Aku serahim dengannya, serumah, sepermainan juga dengannya. Tapi.. entah mengapa aku seakan-akan  takut kehilangannya. Sejak aku mulai beranjak dewasa, aku merasakan tatapan matanya yang tak biasa. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Ya… apakah aku menyukainya..??
Tapi mana mungkin..?? mungkinkah perasaan ini kan abadi, setiap kali dia bersama teman perempuannya hatiku seakan berkata,,”JANGAN TINGGALKAN AKU…!!!” dan sejujurnya aku ingin terus bersamanya, apakah dia juga menyayangiku..?? Apa mungkin…?? Dia sayang sama aku karena tak lain aku hanyalah dianggap sebagai saudara kembarnya..

Ku tutup diary ini, karena tiba-tiba ada jeritan dari luar, sepertinya aku mengenal suara itu.”Eni,,,!!” Sontak ku dengan cepat mengembalikan diary ini dan berlari keluar. Aku lihat Eni sudah tak sadarkan diri.
“Hey,,, ada apa dengan Eni..?” tanyaku penasaran.
“Aku juga nggak tau, tiba-tiba saja dia berteriak histeris, dan sesaat kemudian pingsan..” jawab Ria panik.
“Ya udah,, kita segera keluar aja dari rumah ini, ayo cepat..!!!” seru Doni.
Kamipun segera keluar dari rumah tua ini, tapi sebelumnya aku melihat foto itu lagi. Foto keluarga yang berjumlah 5 orang, hatiku merasa pernah bersama mereka, tapi entah kapan,,,? Aghhhh…..!! kepalaku pening. Akupun keluar dari rumah ini dengan penasaran yang semaki lama semakin membunuh perasaanku.

***
Setibanya di rumah, aku mengambil minyak kayu putih untuk menyadarkan Eni, aku ingin tau apa yang menyebabka dia pingsan kayak gini. Tak lama kemudian Eni pun siuman, dengan wajah yang terlihat pucat pasi. Dia seperti manusia yang tak sadarkan diri. Aku jadi menyesal telah mengajak dia ke rumah tua itu, aku merasa bersalah banget.
“En….kamu kenapa..? kamu baik-baik aja kan?” tanya Doni cemas’
“Kamu tau nggak, aku tadi melihat perempuan pake kebaya putih berjalan ke dinding, aku panggil dia, tapi dia nggak nengok. Padahal suaraku udah keras. Sesaat kemudian dia nengok kearah ku, wajahnya mirip banget sama Belly. Tiba-tiba dia menghilang di tengah-tengah dinding. Spontan aku kaget dan berteriak lalu aku nggak inget apa-apa lagi.” Jawab Eni lemas.
“Em.... maafin aku ya, kalau aja aku nggak ajak kalian ke rumah tua itu, kamu nggak akan trauma kayak gini.” Kataku sambil memeluk Eni.
“Nggak apa-apa Bell, aku juga yang ngeyel, udah tau rumah itu angker tapi aku malah ikut.” Kata Eni.
Siang ini mereka langsung pulang ke rumah. Rumah yang aneh, pikirku. Aku memikirkan isi diary sosok Bella itu. Dia sangat mencintai saudaranya sendiri. Kok bisa ya,,,, Lalu ku buka tas yang tadi ku bawa ke rumah tua itu. Lho,,, dimana buku diarynya..? Ya Tuhan… diary itu ketinggalan. Agh,,, bodohnya diriku.
Tapi kenapa Belly mirip banget dengan ku..? Nama, tanggal lahir, wajahnya sama persis denganku. Rumah itu mengandung misteri yang harus aku ungkapkan. Aku nggak ingin mati penasaran gara-gara mikirin rumah tua itu. Em,,, gimana kalau besok aku pergi ke rumah tua itu sendirian,,?
***
Esoknya aku bersiap pergi ke rumah tua itu, walaupun aku takut setengah mati, tapi aku harus berani. Pintu rumah tua ini aku buka, tiba-tiba sekilas bayangan putih melintas di depanku. Bulu kuduku merinding. Tapi aku nggak boleh takut. Kulangkahkan kaki menuju kamar itu. Kamar yang ku rasa tak asing bagiku. Yang terdengar hanyalah detak jantungku yang berdenyut kencang. Dengan hati-hati ku buka laci itu dan ku ambil buku diary itu bersama fotonya. Aku berhasil keluar dari rumah tua itu dengan puas.
Aku mengunci pintu kamarku dan membaca halaman demi halaman diary ini.

April, 9 1948
Hari ini adalah hari yang membuatku bahagia, dimana kembaranku menyatakan perasaannya pada ku. Ternyata selama ini dia juga mencintaiku. Lalu aku menjawab kalau aku ingin selalu bersamanya.
Tapi aku juga bingung, apakah cinta kita akan abadi.? Karena cinta ini jelas terlahir dari sebuah cinta terlarang (cinta sedarah). Ataukah pupus ditengtah jalan. Orang tuaku dan orang tuanya pasti tak akan setuju. Karena orang tua kita itu SAMA.
Ya Tuhan…. Kenapa engkau menciptakan kita dari rahim yang sama.? Jikalau Engkau menciptakan kami dari orang tua yang berbeda, pasti aku akan bisa bersamanya.
Aku mencintaimu Benny Anansyah Putra,
Itu Sungguh,,,,,!!!!!!!!

Juni, 17 1949

Kedua orang tuaku telah mengetahui hubunganku dengan Benny, mereka marah pada kita. Mereka bilang, jika kita meneruskan hubungan ini Tuhan akan melaknat hubungan kita berdua. Air matapun menetes mendengar ucapan itu, aku tak tahan lagi dan mulai beranjak memasuki kamar.
Setelah ku fikir-fikir aku memutuskan untuk pergi dari rumah, aku tak ingin menyakiti ke dua orang tuaku dan Benny. Biarkan Benny mencari pasangan hidupnya. Semoga cinta ini kekal untuk selamanya.

Aku masih membaca diary ini sampai akhir halaman dan di halam terakhir mengisahkan kalau Belly ingin pergi dari rumah. Sekarang aku tau kisah cinta dua insan ini  dari rumah tua itu. Sepasang saudara kembar yang saling menaruh rasa. Dan Belly memilih pergi dan meninggalkan Benny untuk menemukan pasangan sejatinya.
Adilkah…!!!! Gumamku dalam hati.
Kasihan mereka, Belly tersiksa dengan cintanya.
Aku berniat mengembalikan diary ini, tapi nanti. Aku masih penasaran sama satu hal yang belum bisa aku pecahkan. Mengapa Belly mirip denganku,,? Apakah diantara kita terdapat hubungan darah…?? Tapi apa mungkin, nenek dari orang tua ku bukan dari sini, sedangkan usiaku dan Belly sangat terpaut jauh. Dia gadis kelahira 11 Juli 1928 sedangkan diriku 11 Juli 1982.
Setiap malam aku selalu bermimpi bertemu Belly dan dia selalu nerkata padaku utuk mengembalikan diary miliknya. Setiap bangun tidur, aku selalu membantah mimpi itu, mungkin itu cuma bayang-bayangku saja, tapi mimpi itu datang berkali-kali membuatku yakin kalau itu pertanda aku harus mengembalikan diary ini dari pada nanti aku mati dicekik arwah Belly.
Pagi ini aku akan mengembalikan diary ini ke rumah tua itu, tapi entah mengapa aku ingin sekali minta maaf pada penghuni rumah dan teman-temanku. Firasatku mengatakan begitu. Akupun menemui kedua orang tuaku.
“Ibu, ayah, maafin Belly jika selama ini selalu buat salah dan nggak pernah hormat pada orang tua..” kataku sambil memeluk mereka.
“Tumben Bell, nemangnya ada apa dengan kamu..? kamu mau pergi ya,,,” tanya ayah penasaran.
“Nggak kok Yah, aku ingin minta maaf aja.” Jawabku berbohong.
Kalau aku cerita mau pergi ke rumah tua itu mereka pasti akan melarangnya, mereka nggak ingin anak semata wanyangnya itu kenapa-napa.
Lalu aku menghubungi Eni, Doni, Riki, dan Ria, kalu aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku buat.
Akupun berangkat ke rumah tua itu.  Aku sepertinya semakin dekat dengan rumah tua itu, hatiku mengatakan kalau aku akan pulang. Hah…?? Pulang..? Kerumah tua itu..? Nggak mungkin, itu mungkin Cuma firasatku.
Tiba-tiba semua mimpiku tentang rumah tua itu terbayang di depan mataku. Mimpi itu semakin jelas, mimpi yang mengantarkanku untuk tinggal di rumah tua itu. Apa aku kembali kerumah aja ya,,!!! Tapi aku nggak mau hidup nggak tenang. Setelah diary ini beberapa hari menetap di kamarku, aku selalu di hantui bayang-bayang Belly.
Ku langkahkan kaki menuju gerbang rumah itu, dan aku sudah tiba di depan pintu. Ku buka gagang pintu dan masuk ke dalam. Ku harus cepat mengembalikan diary ini ke tempat asalnya. Tapi… rasanya ada yang mengikutiku dari belakang, suara langkahan kaki itu berjalan mendekatiku. Ku tengok kebelakang, tapi tak ada seorangpun.
Lantai rumah ini bersih, terus siapa yang membersihkannya..? Lalu aku berjalan lagi menuju kamar, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Ku gerakkan kepalaku perlahan-lahan. Aku spontan kaget, sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi siapa ya…. Kupandangi dia dari bawah sampai atas, takut kalau orang ini hantu. Tapi kakinya menempel tanah, berarti dia bukan seperti yang ku bayangkan.
“Belly,,, kamu sudah kembali., kamu kemana saja., aku mencarimu selama ini.” Katanya mengejutkanku.
“Maaf, nama saya Bella bukan Belly, apakah anda pemilik rumah ini.?” Tanyaku penasaran.
“Belly…. Ini aku Benny. Aku nencarimu, jangan pergi..!! aku mmencintaimu.. sungguh Belly.” Katanya memelas.
“Hah..!! Kamu Benny..?? Jadi kamu kembarannya Belly..?. Tapi kamu kok belum mati.? Atau jangan-jangan, kamu adalah arwahnya Benny..” ujarku takut.
“Belly, aku nggak bisa mati, itu karena kekuatan cinta kita yang abadi. Kamu mau kan tinggal disini bersamaku..? Aku mohon Belly..!!! Jangan tinggalkan aku lagi..!!” mohon Benny padaku.
Apa…???? Dia Benny, kembarannya Belly.? Tapi kenapa dengan perasaanku. Kenapa tiba-tiba aku menganggukkan kepala pertanda aku menyetujuinya untuk tinggal di rumah ini..?? Ada apa denganku..? Ya Tuhan,,, Apakah aku Belly..?? Bagaimana dengan orang tua dan teman-temanku..? Mereka pasti mencariku.
Akhirnya akupun memilih cinta ini dan hidup bersama Benny, kembarannya Belly di dalam rumah tua ini. Mungkinkah aku Belly yang telah menjelma diriku untuk menyatukan cinta abadinya bersama Benny..?


*********************