prima_amstrong
Rabu, 05 Maret 2014
Senin, 11 November 2013
parang tritis.. :D
sunset di parang tritis..
mbk heni dan mbk afi...
foto sendiri..
hu..hu...
:)
ditengah lautan..
(allay)..
dikejar-kejar...
waaaaaaaaaaaaa.........!!!!!!!!!!!!!!
Kamis, 13 Desember 2012
Minggu, 04 Desember 2011
cerpen
REIKARNASI
Rumah
itu begitu besar, usia rumah itu lumayan lama dan kelihatannya seram. Setelah
ku amati dalam-dalam rumah itu mirip dengan dengan bangunan kastel tua. Ya… kastel..!! Siapapun yang lewat depan
rumah tua itu, ingin segera melewatinya karena takut ada hal-hal aneh yamg
mungkin menimpa mereka. Bagiku setiap melewati rumah tua iyu aku merasa tak
asing lagi, sangat dekat denganku, bahkan aku merasa nyaman.
Hari
ini adalah giliran belajarr kelompok di rumahku. Kelompokku ada 5, Eni, Ria,
Doni, Riki, dan Aku. Setelah menunggu 20 menit, datanglah mereka. Akupun
mempersilahkan mereka masuk. Lali kit belajar seperti biasa. Seusai belajar
tiba-tiba Riki menanyakan perihal rumah tua itu.
“Bell,
kamu pernah nggak pergi ke rumah tua yang ada di seberang jalan sana.?” tanya
Riki serius.
“Ya
nggak pernahlah, kalau lewat sih sering soalnya kalau ke sekolah lewat depan
rumah tua itu. Emangnya ada apa.?” Tanyaku penasaran.
“Tadi
aku nggak sengaja iseng-iseng aja motret rumah tua itu, kamu tau apa.? Nih
lihat,,!!!” kata Riki sambil nyerahim digitalnya.
Aku,
Deni, Eni, Ria serempak menonton apa yang ada dalam digital itu, akupun shock,
dimana disebuah ayunan taman rumah tua itu ada sesosok bocah peremouan yang
memakai pakaian putih hingga menutup seluruh kakinya, selain itu dia merambut
panjang dan berwajah pucat. Merinding yang kurasakan saat ini, apalagi
teman-teman ku. Menurut Riki waktu dia sedang memotret tak ada seorangpun
disekitar rumah itu.
“Eh,,,
temen-temen gimana kalau kita menyelidiki isi rumah tua itu. Emang sih
kedengarannya aneh, tapi emang nyatanya aneh. Coba bayangin rumah setua itu
sampai sekarang tamannya masih indah padahal kayaknya nggak ada yang ngerawat.”
Ujarku sambil berpikir-pikir.
“Tapi
untuk apa..? mending nggak usah, kamu tau kan kalau aku takut sama hal-hal
misterius kayak gitu.” Kata Eni merayu.
“Aku
tuh penasaran banget, dari aku kecil sampai kelas 2 SMA ini, aku sering mimpi
yang aneh-aneh, aku nggak tau apa arti semua mimpi itu, tapi kayaknya
berhubungan sama rumah tua itu.” Kataku.
“Oke…
jadi kapan kita kesana…?” tanya Ria semangat.
“Em,,,
gimana kalau hari Minggu.?” Usul Doni8.
“Boleh
juga, tapi aku kan takut.” Kata Eni melas.
“Ngapai
takut, kan ada kita berempat.” Bujuk Ria.
Pada
pertemuan belajar kelompok kali ini kita malah asyik membahas penyelidikan
rumah tua itu, dan setelah dirasa cukup bahas membahasnya, akhirnya mereka
memutuskan untuk pulang. Dan bertemu lagi hari Minggu besok.
***
Krek……..
Suara
pintu gerbang dibuka. Sedangkan aku sibuk mengamati sekitar rumah ntua ini.
Taman yang terlihat tua dengan ayunan yang setia menemani. Anehnya di bagian
pintu tak ada satupun sarang laba-laba. Perlahan namun pasti, kamipun masuk,
walaupun masih pagi tapi rumah ini tak terdapat sinar sedikitpin. Untunglah
kami membawa senter. Sesekali ku lihat foto keluarga di dinding. Aku cermati
foto seorang gadis yang mengenakan kebaya putih itu sangatlah mirip denganku.
Tapi itu mungkin hanya perasaanku saja, gumamku dalam hati.
Akupun
melanjutkan hingga masuk disebuah kamar, kulihat ranjang yang terbuat dari besi
dengan ukiran yang sangat dekat denganku. Sebelah kanan terdapat sebuah lemari
yang berukiran bunga-bunga dimana tertempel sebuah cermin besar di sebelah
kirinya.
Perasaanku
mengatakan kalau aku pernah tidur disini. Tiba-tiba tanpa ku sadari, aku tak
sengaja ingin membuka laci yang berada di samping ranjang. Aku menemukan sebuah
buku diary bertuliskan,
BELLY ANASYTASYA PUTRI 11 JULI 1928
Namanya
mirip denganku, akupun melanjutkan membuka halaman berikutnya. Di halaman
pertama, aku menemukan sebuah foto. Akupun semakin shock,,. Dia sangat mirip
denganku, hanya saja terdapat tahi lalat di dekat matanya, sedangkan aku tidak.
January,11 1948
Ku
tulis sebuah kisah memilukan dalam diary ini. Kisah yang mungkin aneh tuk
didengar, dibaca, ataupun diceritakan. Aku adalah gadis yang terlahir kedunia
bersama dengan saudara laki-laki yang juga mirip denganku. Aku serahim
dengannya, serumah, sepermainan juga dengannya. Tapi.. entah mengapa aku
seakan-akan takut kehilangannya. Sejak
aku mulai beranjak dewasa, aku merasakan tatapan matanya yang tak biasa. Aku
bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang belum pernah aku
rasakan. Ya… apakah aku menyukainya..??
Tapi
mana mungkin..?? mungkinkah perasaan ini kan abadi, setiap kali dia bersama
teman perempuannya hatiku seakan berkata,,”JANGAN TINGGALKAN AKU…!!!” dan
sejujurnya aku ingin terus bersamanya, apakah dia juga menyayangiku..?? Apa
mungkin…?? Dia sayang sama aku karena tak lain aku hanyalah dianggap sebagai
saudara kembarnya..
Ku
tutup diary ini, karena tiba-tiba ada jeritan dari luar, sepertinya aku
mengenal suara itu.”Eni,,,!!” Sontak ku dengan cepat mengembalikan diary ini
dan berlari keluar. Aku lihat Eni sudah tak sadarkan diri.
“Hey,,,
ada apa dengan Eni..?” tanyaku penasaran.
“Aku
juga nggak tau, tiba-tiba saja dia berteriak histeris, dan sesaat kemudian
pingsan..” jawab Ria panik.
“Ya
udah,, kita segera keluar aja dari rumah ini, ayo cepat..!!!” seru Doni.
Kamipun
segera keluar dari rumah tua ini, tapi sebelumnya aku melihat foto itu lagi.
Foto keluarga yang berjumlah 5 orang, hatiku merasa pernah bersama mereka, tapi
entah kapan,,,? Aghhhh…..!! kepalaku pening. Akupun keluar dari rumah ini
dengan penasaran yang semaki lama semakin membunuh perasaanku.
***
Setibanya
di rumah, aku mengambil minyak kayu putih untuk menyadarkan Eni, aku ingin tau
apa yang menyebabka dia pingsan kayak gini. Tak lama kemudian Eni pun siuman,
dengan wajah yang terlihat pucat pasi. Dia seperti manusia yang tak sadarkan
diri. Aku jadi menyesal telah mengajak dia ke rumah tua itu, aku merasa
bersalah banget.
“En….kamu
kenapa..? kamu baik-baik aja kan?” tanya Doni cemas’
“Kamu
tau nggak, aku tadi melihat perempuan pake kebaya putih berjalan ke dinding,
aku panggil dia, tapi dia nggak nengok. Padahal suaraku udah keras. Sesaat
kemudian dia nengok kearah ku, wajahnya mirip banget sama Belly. Tiba-tiba dia
menghilang di tengah-tengah dinding. Spontan aku kaget dan berteriak lalu aku
nggak inget apa-apa lagi.” Jawab Eni lemas.
“Em....
maafin aku ya, kalau aja aku nggak ajak kalian ke rumah tua itu, kamu nggak
akan trauma kayak gini.” Kataku sambil memeluk Eni.
“Nggak
apa-apa Bell, aku juga yang ngeyel, udah tau rumah itu angker tapi aku malah
ikut.” Kata Eni.
Siang
ini mereka langsung pulang ke rumah. Rumah yang aneh, pikirku. Aku memikirkan
isi diary sosok Bella itu. Dia sangat mencintai saudaranya sendiri. Kok bisa
ya,,,, Lalu ku buka tas yang tadi ku bawa ke rumah tua itu. Lho,,, dimana buku
diarynya..? Ya Tuhan… diary itu ketinggalan. Agh,,, bodohnya diriku.
Tapi
kenapa Belly mirip banget dengan ku..? Nama, tanggal lahir, wajahnya sama
persis denganku. Rumah itu mengandung misteri yang harus aku ungkapkan. Aku
nggak ingin mati penasaran gara-gara mikirin rumah tua itu. Em,,, gimana kalau
besok aku pergi ke rumah tua itu sendirian,,?
***
Esoknya
aku bersiap pergi ke rumah tua itu, walaupun aku takut setengah mati, tapi aku
harus berani. Pintu rumah tua ini aku buka, tiba-tiba sekilas bayangan putih
melintas di depanku. Bulu kuduku merinding. Tapi aku nggak boleh takut.
Kulangkahkan kaki menuju kamar itu. Kamar yang ku rasa tak asing bagiku. Yang
terdengar hanyalah detak
jantungku yang
berdenyut kencang. Dengan hati-hati ku buka laci itu dan ku ambil buku diary
itu bersama fotonya. Aku berhasil keluar dari rumah tua itu dengan puas.
Aku
mengunci pintu kamarku dan membaca halaman demi halaman diary ini.
April, 9 1948
Hari
ini adalah hari yang membuatku bahagia, dimana kembaranku menyatakan
perasaannya pada ku. Ternyata selama ini dia juga mencintaiku. Lalu aku menjawab
kalau aku ingin selalu bersamanya.
Tapi
aku juga bingung, apakah cinta kita akan abadi.? Karena cinta ini jelas
terlahir dari sebuah cinta terlarang (cinta sedarah). Ataukah pupus ditengtah
jalan. Orang tuaku dan orang tuanya pasti tak akan setuju. Karena orang tua
kita itu SAMA.
Ya
Tuhan…. Kenapa engkau menciptakan kita dari rahim yang sama.? Jikalau Engkau
menciptakan kami dari orang tua yang berbeda, pasti aku akan bisa bersamanya.
Aku
mencintaimu Benny Anansyah Putra,
Itu
Sungguh,,,,,!!!!!!!!
Juni, 17 1949
Kedua
orang tuaku telah mengetahui hubunganku dengan Benny, mereka marah pada kita.
Mereka bilang, jika kita meneruskan hubungan ini Tuhan akan melaknat hubungan
kita berdua. Air matapun menetes mendengar ucapan itu, aku tak tahan lagi dan
mulai beranjak memasuki kamar.
Setelah
ku fikir-fikir aku memutuskan untuk pergi dari rumah, aku tak ingin menyakiti
ke dua orang tuaku dan Benny. Biarkan Benny mencari pasangan hidupnya. Semoga
cinta ini kekal untuk selamanya.
Aku
masih membaca diary ini sampai akhir halaman dan di halam terakhir mengisahkan
kalau Belly ingin pergi dari rumah. Sekarang aku tau kisah cinta dua insan
ini dari rumah tua itu. Sepasang saudara
kembar yang saling menaruh rasa. Dan Belly memilih pergi dan meninggalkan Benny
untuk menemukan pasangan sejatinya.
Adilkah…!!!!
Gumamku dalam hati.
Kasihan
mereka, Belly tersiksa dengan cintanya.
Aku
berniat mengembalikan diary ini, tapi nanti. Aku masih penasaran sama satu hal
yang belum bisa aku pecahkan. Mengapa Belly mirip denganku,,? Apakah diantara
kita terdapat hubungan darah…?? Tapi apa mungkin, nenek dari orang tua ku bukan
dari sini, sedangkan usiaku dan Belly sangat terpaut jauh. Dia gadis kelahira
11 Juli 1928 sedangkan diriku 11 Juli 1982.
Setiap
malam aku selalu bermimpi bertemu Belly dan dia selalu nerkata padaku utuk
mengembalikan diary miliknya. Setiap bangun tidur, aku selalu membantah mimpi
itu, mungkin itu cuma bayang-bayangku saja, tapi mimpi itu datang berkali-kali
membuatku yakin kalau itu pertanda aku harus mengembalikan diary ini dari pada
nanti aku mati dicekik arwah Belly.
Pagi
ini aku akan mengembalikan diary ini ke rumah tua itu, tapi entah mengapa aku
ingin sekali minta maaf pada penghuni rumah dan teman-temanku. Firasatku
mengatakan begitu. Akupun menemui kedua orang tuaku.
“Ibu,
ayah, maafin Belly jika selama ini selalu buat salah dan nggak pernah hormat
pada orang tua..” kataku sambil memeluk mereka.
“Tumben
Bell, nemangnya ada apa dengan kamu..? kamu mau pergi ya,,,” tanya ayah
penasaran.
“Nggak
kok Yah, aku ingin minta maaf aja.” Jawabku berbohong.
Kalau
aku cerita mau pergi ke rumah tua itu mereka pasti akan melarangnya, mereka
nggak ingin anak semata wanyangnya itu kenapa-napa.
Lalu
aku menghubungi Eni, Doni, Riki, dan Ria, kalu aku minta maaf atas semua kesalahan
yang pernah aku buat.
Akupun
berangkat ke rumah tua itu. Aku
sepertinya semakin dekat dengan rumah tua itu, hatiku mengatakan kalau aku akan
pulang. Hah…?? Pulang..? Kerumah tua itu..? Nggak mungkin, itu mungkin Cuma
firasatku.
Tiba-tiba
semua mimpiku tentang rumah tua itu terbayang di depan mataku. Mimpi itu
semakin jelas, mimpi yang mengantarkanku untuk tinggal di rumah tua itu. Apa
aku kembali kerumah aja ya,,!!! Tapi aku nggak mau hidup nggak tenang. Setelah
diary ini beberapa hari menetap di kamarku, aku selalu di hantui bayang-bayang
Belly.
Ku
langkahkan kaki menuju gerbang rumah itu, dan aku sudah tiba di depan pintu. Ku
buka gagang pintu dan masuk ke dalam. Ku harus cepat mengembalikan diary ini ke
tempat asalnya. Tapi… rasanya ada yang mengikutiku dari belakang, suara
langkahan kaki itu berjalan mendekatiku. Ku tengok kebelakang, tapi tak ada
seorangpun.
Lantai
rumah ini bersih, terus siapa yang membersihkannya..? Lalu aku berjalan lagi
menuju kamar, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Ku gerakkan kepalaku
perlahan-lahan. Aku spontan kaget, sepertinya aku pernah melihat orang ini.
Tapi siapa ya…. Kupandangi dia dari bawah sampai atas, takut kalau orang ini
hantu. Tapi kakinya menempel tanah, berarti dia bukan seperti yang ku
bayangkan.
“Belly,,,
kamu sudah kembali., kamu kemana saja., aku mencarimu selama ini.” Katanya
mengejutkanku.
“Maaf,
nama saya Bella bukan Belly, apakah anda pemilik rumah ini.?” Tanyaku
penasaran.
“Belly….
Ini aku Benny. Aku nencarimu, jangan pergi..!! aku mmencintaimu.. sungguh
Belly.” Katanya memelas.
“Hah..!!
Kamu Benny..?? Jadi kamu kembarannya Belly..?. Tapi kamu kok belum mati.? Atau
jangan-jangan, kamu adalah arwahnya Benny..” ujarku takut.
“Belly,
aku nggak bisa mati, itu karena kekuatan cinta kita yang abadi. Kamu mau kan
tinggal disini bersamaku..? Aku mohon Belly..!!! Jangan tinggalkan aku
lagi..!!” mohon Benny padaku.
Apa…????
Dia Benny, kembarannya Belly.? Tapi kenapa dengan perasaanku. Kenapa tiba-tiba
aku menganggukkan kepala pertanda aku menyetujuinya untuk tinggal di rumah
ini..?? Ada apa denganku..? Ya Tuhan,,, Apakah aku Belly..?? Bagaimana dengan
orang tua dan teman-temanku..? Mereka pasti mencariku.
Akhirnya
akupun memilih cinta ini dan hidup bersama Benny, kembarannya Belly di dalam
rumah tua ini. Mungkinkah aku Belly yang telah menjelma diriku untuk menyatukan
cinta abadinya bersama Benny..?
*********************
Jumat, 28 Oktober 2011
Langganan:
Komentar (Atom)












































